ads

Slider[Style1]


ads

Berita

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Teladan Kepemimpinan Rasulullah; Refleksi Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW


Oleh : Fitriani, S.Sos

Kemarin, tanggal 12 Rabiul Awal merupakan tanggal bersejarah bagi umat Islam di seluruh dunia, karena pada tanggal tersebut lahir seorang rasul yang membawa risalah Islam.
Beliau adalah Nabi Besar Muhammad SAW. Peringatan maulid nabi yang diperingati setiap tanggal 12 Rabiul Awal pada hakekatnya sebagai upaya mengingat kembali hari kelahiran dan sejarah hidup nabi, meningkatkan komitmen memegang teguh ajarannya dan menjadikan beliau sebagai figur teladan utama bagi kaum muslimin khususnya dan setiap manusia pada umumnya.
Peringatan maulid nabi biasanya dilakukan dalam berbagai bentuk, ada yang mengadakan tablig akbar dengan mendatangkan ulama terkenal, membaca shalawat nabi dan aneka tradisi lainnya yang berkembang dimasyarakat. Kita percaya bahwa itu semua merupakan bentuk ekpresi kecintaan kaum muslimin terhadap nabi yang dicintainya.
Dibulan yang mulia ini, perlunya kita meneladani kembali sosok Rasulullah SAW dengan segala kemuliaan akhlak beliau dan keberhasilan beliau sebagai Pemimpin Sejati umat islam. Apalagi ditengah-tengah zaman yang kehilangan sosok  pemimpin umat. Karena
Rasulullah adalah yang sosok pemimpin sejati, visioner, yang melayani dan merakyat. Sangatlah penting untuk membuka kembali lembaran sejarah Nabi Muhammad SAW serta mencontoh keteladanannya dalam mengelola kepemimpinan umat dalam menciptakan kebaikan kualitatif maupun kuantitatif.
Apalagi bagi umat Islam, Muhammad SAW, bukan sekadar cermin teladan (uswah hasanah) dalam masalah rohani, melainkan juga contoh ideal seorang pemimpin duniawi. Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW, tidak sebatas urusan agama, akan tetapi beliau juga pemimpin negara yang mempunyai wilayah kekuasaan, rakyat, dan sistem ketatanegaraan.
Ali Syariati menggambarkan sosok, karakter, dan perilaku Nabi dalam tulisannya yang berjudul A Visage of Prophet Muhammad. Sosok Nabi sebagai pemimpin militer : “Tidak ada pemimpin militer, sehubungan dengan operasi militernya sendiri, yang mampu melibatkan dirinya dalam perang sebanyak itu (64 atau 65 kali), dalam sepuluh tahun kepemimpinannya di bidang sosial dan politik. Nabi Muhammad SAW bukan hanya sebagai pemimpin militer belaka, tetapi juga, Nabi dan Rasul yang memperlihatkan kualitas kemanusiaannya yang sangat terpuji.
Tidak dilupakan, misalnya, sebagai pemimpin yang mampu menandingi bahkan meruntuhkan sejumlah kekaisaran besar pada zamannya, Nabi berkenan menerima seorang wanita yang selama sekira satu jam mengadukan masalah rumah tangganya.
Juga sekali waktu, sepulang berperang, Nabi turun dari kudanya dan menemui seorang buruh kecil yang terkucil. Diciumnya tangan sang buruh yang kasar itu, serta menjelaskan tangan yang kelelahan mencari nafkah untuk kebaikan keluarganya ini diharamkan tersentuh api neraka.
Jika kita tengok sejarah awal berdirinya Daulah Islam di Yastrib (Madinah), Rasulullah berhasil menyatukan berbagai macam suku di bawah naungan islam. Beliau juga mendamaikan pertikaian antara suku ‘Aus dan suku Khazraj yang sudah berlangsung berabad-abad lamanya. Rasulullah membuktikan bahwa ikatan aqidah islam merupakan ikatan tertinggi yang mampu mengalahkan berbagai ikatan-ikatan lain, termasuk ikatan kesukuan.
Sebagai Rasul dan juga kepala negara, Rasulullah juga senantiasa berusaha mendakwahkan islam ke seluruh penjuru dunia dengan mengirim utusan-utusannya ke negeri-negeri di luar Madinah, termasuk ke dua imperium besar yang sudah berusia ribuan tahun, yaitu Persia dan Romawi.
Maka, dalam kurun waktu kurang dari 30 tahun, Rasulullah berhasil membuat wilayah Persia yang seluas 7.400.000 km2 masuk ke dalam wilayah islam. Hingga hari ini, tidak ada satu pun negara yang berkembang sepesat Daulah Islam.
Rasulullah benar-benar telah membesarkan nama islam. Bahkan sepeninggal Rasulullah, Daulah Islam terus berkembang hingga memiliki luas 20.000.000 km2 dan wilayahnya terbentang hingga dua per tiga dunia. Pada masa itu Islam benar-benar berjaya di mata dunia.
Berbicara tentang pemimpin dan kepemimpinan, maka teladan yang paling baik adalah kepemimpinan Rasulullah saw. Dalam kurun waktu yang singkat (sekitar 23 tahun) beliau berhasil dengan gemilang merekontruksi akhlak masyarakat Mekah dari akhlak jahiliah menjadi masyarakat yang berakhlak mulia (akhlakul karimah).
Kota Mekah yang dulu tidak dikenal dalam sejarah peradaban manusia, menjadi daerah yang masyarakatnya memiliki akhlak mulia. Keberhasilan Nabi mengubah aspek moralitas tersebut manjadi alasan Michael Hart (seorang penulis non muslim) menempatkan nabi diurutan pertama diantara 100 tokoh paling berpengaruh di dunia. 
Jika kita menyimak sejarah hidup Rasulullah semakin membuat kita terpesona dengan model kepemimpinan yang beliau terapkan. Mahasuci Allah yang telah mengutus rasul-Nya menjadi suri teladan terbaik dalam kepemimpinannya. Nabi saw. adalah pemimpin terbaik sepanjang masa, karena Rasulullah selalu memimpin dengan akhlak mulia, adil dan menekankan pentingnya keteladanan. 
Meskipun beliau adalah seorang kepala negara, namun beliau hidup sederhana, tidak bergelimang harta. Meskipun beliau adalah seorang panglima, namun beliau adalah panglima yang menyayangi prajurit-pajurit. Tutur katanya lembut, berwibawa dan menyenangkan siapapun yang mendengar. Tatap matanya sejuk dan menentramkan.
Setiap kebijakannya selalu dituntun Allah SWT dan tidak ada kebijakan yang menyakiti umat. Kebijakan-kebijakan beliau tidak pernah merugikan satu kelompok atau menguntungkan kelompok yang lain. Semua kebijakan ditetapkan secara adil dan bijaksana. 
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS. Al Ahzab [33]: 21).
Sebagai umat Rasulullah, sudah sepatutnya kita menjadikan beliau sebagai figur teladan utama, apapun profesi, pangkat dan jabatan yang kita sandang. Pada dasarnya setiap kita adalah pemimpin. Suami adalah pemimpin dalam rumah tangga. Ibu pemimpin bagi bagi anak-anaknya. Seorang kepala negara adalah pemimpin bagi rakyatnya.
Selayaknya kita menjadi figur manusia terbesar sepanjang usia bumi itu menjadi role model dalam kehidupan kita sehari-hari. Untuk bangkit dari krisis multidimensi saat ini, Indonesia membutuhkan pemimpin yang berakhlak mulia seperti yang dicontohkan Rasulullah.
Kita merindukan pemimpin yang punya hati nurani, hidup sederhana, bukan hidup bergelimang kemewahan ketika rakyat hidup sengsara. Kita merindukan pemimpin yang adil dan bijaksana, bukan pemimpin otoriter dan sok kuasa. Kita ingin pemimpin yang pro-rakyat, bukan pemimpin yang hanya menjadikan rakyat sebagai pijakan meraih kekuasaan.
Kita merindukan pemimpin yang peduli rakyat, bukan pemimpin yang mementingkan citra politik dan melanggengkan kekuasaanya. Kita merindukan pemimpin yang tutur katanya merupakan pemecah masalah, bukan menjadi sumber masalah. Betapa rindunya kehadiran pemimpin seperti Rasulullah. Wallahu a’lam.

Sumber: Voa-Islam.com

Budaya Instan Rapuhkan Umat Islam


Taukah kamu kalo tradisi gotong royong di Indonesia baru ada setelah masuknya Islam? Sebelum Islam datang, leluhur kita hidup dalam selimut budaya feodal, yang jelata tunduk melayani penguasa. Dalam tradisi Hindu dikenal sistem kasta. Terjadi sekat-sekat sosial, nggak setiap orang boleh berbaur gitu aja.
Kebudayaan adalah hasil kreasi manusia yang dipengaruhi ideologi dan agama. Dan taukah  kamu, siapa yang mempengaruhi banget kebudayaan Indonesia? Jawabannya adalah Islam. Tentunya sejak masuknya Islam di Nusantara.
Salah satu kekayaan budaya Indonesia yang dipengaruhi banget oleh Islam adalah bahasa. Bahasa Melayu merupakan bahasa yang dapat banyak banget asupan dari bahasa Arab. Selanjutnya, dalam Sumpah Pemuda 1928, para pemuda Indonesia bersepakat menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Dan taukah kamu yang dimaksud bahasa Indonesia waktu itu? Ya bahasa Melayu itu.
Salah satu kata dalam bahasa Indonesia yang bersumber dari bahasa Arab adalah “musyawarah”. Dan sejarah mencatat kalo nenek moyang kita baru punya budaya musyawarah setelah Islam datang. Budaya musyawarah selanjutnya melahirkan budaya gotong royong. Dulu, pengantin baru nggak perlu pusing mikirin tempat tunggal. Masyarakat bakal ngasih sumbangan kayu, bambu, genteng, dan bahan bangunan lainnya, lalu bergotong royong membuatkan rumah buat tuh pasangan muda. Masya Allah …. Begitu juga menggarap sawah, masyarakat saling bantu bergiliran dari sawah satu ke sawah lainnya. Kebersamaan mereka melahirkan ketenteraman hidup yang nyata.
Tapi kemudian datanglah fitnah besar, penjajah dari Eropa. Kaum imperialis kafir itu merusak budaya gotong royong dan menggantinya dengan individualisme. Sampai saat ini, pergeseran dari budaya gotong royong ke budaya individualis terus terjadi. Paling kentara bisa kita saksikan di kota-kota. Di antara yang mempengaruhi berkembangnya individualisme adalah kelahiran budaya instan.
Contoh budaya instan atau budaya sekali pakai adalah penggunaan air minum dalam kemasan dalam acara-acara kemasyarakatan. Langsung diminum dan gelasnya dibuang. Padahal sebelumnya yang dipakai adalah budaya gotong royong. Warga kampung bahu-membahu memasak air dan mencuci gelas usai dipakai.
Di perdesaan, budaya instan yang melahirkan individualisme terjadi di kalangan petani. Gotong royong petani tergeser oleh mesin-mesin pertanian, para buruh tani kehilangan mata pencaharian.
Budaya instan bikin orang jadi kayak robot, nggak peduli kepentingan orang lain. Orang jadi kayak binatang, yang dicari cuma perut kenyang. Udah capek ngejar uang, mereka pergi nyari hiburan. Ramailah kafe dan karaoke, miras dan artis laris manis. Sebaliknya, ruang-ruang spiritual ditinggalkan. Hedonisme melalaikan tujuan kehidupan.
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKu. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka, dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberiKu makan. Sesungguhnya Allah, Dialah Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan, lagi sangat kokoh.” (adz-Dzaariyaat: 56–58).
Umat Islam yang lama meninggalkan ruang spiritual jadi kebingungan. Mereka terjerumus dalam kemaksiatan. Masuk kafe menenggak miras. Lalu datanglah sekelompok Muslim lain, saudaranya sendiri, di kafe tempat bersenang-senang. Mereka berteriak ini haram itu haram. Para Muslim kebingungan marah karena waktu rehatnya diusik. Lalu, berantemlah kedua kubu Muslim itu dan beritanya beredar ke mana-mana. Anak cucu penjajah bergelak tawa melihat tayangannya.
Mari merenung bersama wahai kaum muda Muslim Indonesia! Mari belajar mengurai persoalan dari pangkalnya dan mencari solusi terbaiknya!
Walloohu a’lam.

Ya Rosuulullooh, Izinkan Aku Berzina


Suatu hari ada seorang pemuda yang mendatangi Nabi ﷺ dan berkata: “Wahai Rosuulullooh, izinkan aku berzina!”
Bayangkan apa yang anda akan katakan pada saat ada seorang anak muda, datang kepada anda dan meminta diidzinkan untuk berzina?
Kejadian ini bukan di warung atau di pasar, tapi terjadi di dalam salah satu masjid paling mulia di muka bumi ini, di masjid Nabawi.
Terbayang oleh kita betapa Rosul bisa membuat anak muda ini merasa begitu dekat dengan beliau dan bicara dengan sangat terbuka, bahkan untuk hal yang kita tahu ini sebagai salah satu dosa besar.
Orang-orang pun bergegas menghampiri pemuda itu dan menghardiknya. Dan mereka mengatakan, “Diam … Diam ….”
Sementara Rasul malah menyuruh pemuda tersebut mendekat kepada Rasulullah dalam jarak sangat dekat kemudian Rasulullah menyuruh pemuda itu untuk duduk.
Sungguh luar biasa! Zina adalah salah satu dosa besar yang hukumannya bagi si pelaku adalah di rajam sampai mati (kalau pelaku sudah menikah) atau didera dengan 100 kali cambukan untuk mereka yang masih bujangan.
Bukankah Rosuuulullooh adalah orang yang paling pantas mengatakan bahwa itu haram dan dosa besar bagi pelakunya?
Tapi lihat bagaimana Rosuulullooh dengan kelembutannya memanggil pemuda itu untuk mendekat sangat dekat, bahkan meminta dia duduk berhadapan dengan Rosuulullooh.
Rosuulullooh mengatakan : “Apakah engkau suka kalau itu terjadi pada ibumu?”
Masya Allooh beliau ﷺ membuat permisalan yang mengangkat logika pemuda yang hampir padam karena terjangan syahwatnya.
Syahwat yang mendominasi dalam diri seseorang akan mematikan logika berfikirnya. Sehingga menjadi nekad dan tidak memperhitungkan resikonya.
Pertanyaan Rosuulullooh, “Apakah engkau suka kalau itu terjadi pada ibumu?”,menohok logika berfikirnya dan menyentuh perasaannya.
Lalu pemuda itu menjawab, “Tidak, demi Allooh semoga Allooh menjadikan aku sebagai tebusan dirimu.”
Rosuulullooh berkata, “Dan begitu pula seluruh manusia tidak ingin engkau berzina dengan ibu-ibu mereka.”
Rosuulullooh berkata lagi, “Apakah engkau suka kalau itu terjadi pada anak perempuanmu?”
Pemuda itu kembali menjawab, “Tidak demi Allooh ya Rosuulullooh semoga Allooh menjadikan aku sebagai tebusan dirimu”.
Rasulullah berkata, “Begitu pula seluruh manusia tidak ingin engkau melakukan itu kepada anak perempuan mereka.”
Rosuulullooh berkata lagi, “Apakah engkau suka kalau itu terjadi kepada saudara perempuanmu?”
Pemuda itu kembali menjawab, “Tidak demi Allooh, semoga Allooh menjadikan aku sebagai tebusan dirimu”.
Rosuulullooh berkata, “Begitu pula seluruh manusia tidak ingin engkau melakukan itu kepada saudara perempuan mereka.”
Kemudian Rosul bertanya lagi : “Apakah engkau suka kalau saudara perempuan ayahmu berzina?”
Dia menjawab : “Demi Allooh tidak! Semoga Allooh menjadikan aku sebagai tebusanmu.”
Rosul pun menjawab : “Demikian juga orang lain. Mereka tidak mau kalau engkau berzina dengan saudara perempuan ayah mereka.”
Kemudian Rosul bertanya lagi : “Apakah engkau suka kalau saudara perempuan ibumu berzina?”
Dia menjawab : “Demi Allooh tidak! Semoga Allooh menjadikan aku sebagai tebusanmu.”
Rosul pun menjawab : “Demikian juga orang lain. Mereka tidak mau kalau engkau berzina dengan saudara perempuan ibu mereka.”
Kemudian Nabi meletakkan tangan beliau kepada si pemuda itu seraya mendo’akannya :
“Ya Allooh, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya.”
Setelah itupun si pemuda sama sekali tidak punya keinginan lagi untuk berzina.
Beginilah cara Rosuulullooh menghadapi seorang anak muda yang telah tertutupi akal fikirannya dengan syahwat yang menggebu-gebu.
Menghidupkan logikanya yang terpuruk dan menyentuh hatinya secara berulang. Padahal Nabi bisa melakukan itu dalam satu kali nasehat. Tapi Nabi mengulangnya sampai beberapakali.
Dan terakhir beliau mendoakannya. Inilah yang sering kita lupakan. Betapa jarangnya kita mendoakan agar orang-orang yang telah melakukan kesalahan agar ia berubah menjadi baik.
Terkadang saat kesalahan itu terjadi pada diri anak-anak kita. Kita lebih cenderung mengingatkan kepada dirinya untuk tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama. Tapi lupa meminta kepada sang pemilik hati agar ia terhindar dari kesalahan yang ia lakukan itu.

Bolehkah Memuaskan Isteri Dengan Jari?



Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Suami istri boleh atau bebas menikmati fisik pasangannya dengan pandangan atau sentuhan. Kecuali mendatangi menggauli istri di duburnya, menggauli istri saat haid dan nifas. Inilah yang dikecualikan syariat dari bebasnya hubungan suami istri. Selain itu dibolehkan; seperti memegang alat kelamin pasangan dan semisalnya.
Allah Subahanahu wa Ta'ala berfirman,
وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ  إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ
“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa.” (QS. Al-Mukminun: 5-6)
نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ وَقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ وَاتَّقُوا اللهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلَاقُوهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ
"Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman." (QS. Al-Baqarah: 223)
Adapun onani atau masturbasi yang dilarang adalah mengeluarkan mani tanpa sebab jima’; seperti menggunakan tangannya sendiri. Adapun memuaskan syahwat dengan tangan pasangannya maka itu mubah atau dibolehkan.
Ibnu Abidin al-Hanafi berkata dalam Radd al-Mukhtar:
سَأل أبو يوسف أبا حنيفة عن الرجل يمس فرْج امرأته، وهي تمس فرْجه ليَتَحَرَّك عليها، هل ترى بذلك بأسًا؟ قال: لا, وأرجو أن يعظم الأجْر
“Abu Yusuf pernah bertanya kepada Abu Hanifah tentang seorang laki-laki yang membelai farji istrinya dan sang istri membelai kemaluan suaminya untuk membangkitkan syahwatnya, apakah menurut Anda itu tidak boleh? Beliau menjawab, "Tidak, aku berharap itu pahalanya besar”."
Zakaria al-Anshari berkata dalam Asnaa al-Mathaalin : Dan ia boleh mangeluarkan mani (masturbasi) dengan tangan istrinya dan budak wanitanya sebagaimana ia boleh menikmati seluruh tubuh keduanya.”
Begitu pula bagi istri, ia boleh memuaskan syahwatnya (masturbasi) dengan tangan suaminya. Ini bukan termasuk masturbasi yang diharamkan.
Ini bisa menjadi salusi bagi suami yang mengalami ejakulasi dini, klimak sebelum istrinya orgasme. Maka ia bisa memuaskan istrinya dengan jari tangannya sehingga istrinya mengalami klimaks seksual. Wallahu A’lam. 

Sumber: Voa Islam

NILAI UKHUWWAH ISLAMIYYAH


Allooh ﷻ berfirman (yang artinya): Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara (TQS al-Hujurot [49]: 10).

Terkait ayat di atas, Imam Ali ash-Shobuni dalam Shofwah at-Tafasir antara lain menyatakan: hanya antara sesama Muslim persaudaraan itu ada, tidak antara Muslim dan kafir; persaudaraan karena faktor keimanan adalah jauh lebih kuat daripada persaudaraan karena faktor hubungan darah.

Hal ini sebagaimana juga ditegaskan oleh Baginda Rosuulullooh ﷺ, “Muslim itu saudara bagi Muslim lainnya.” (HR al-Hakim).

Bahkan Rosuulullooh ﷺ bersabda, “Perumpamaan kaum Mukmin itu dalam hal kasih sayang, sikap welas asih dan lemah-lebut mereka adalah seperti satu tubuh; jika satu anggota tubuh sakit, anggota tubuh lainnya akan merasakan panas dan demam.” (HR Abu Dawud).

Baginda Rosuulullooh ﷺ juga pernah bersabda, sebagaimana penuturan Bara’ bin ‘Azib, “Baginda Rosuulullooh ﷺ telah memerintahkan kepada kami tujuh perkara dan melarang kami dari tujuh perkara pula. Beliau memerintahkan kami untuk: menjenguk orang sakit; mengiringi jenazah (ke kuburan); mendoakan orang yang bersin; membenarkan sumpah; menolong orang yang terzalimi; memenuhi undangan; dan menebarkan salam...” (HR al-Baihaqi).

Bahkan sekadar mengunjungi seorang Muslim, hal demikian merupakan amal perbuatan yang amat terpuji. Tsauban menuturkan bahwa Baginda Rosuulullooh ﷺ pernah bersabda, “Sesungguhnya seorang Muslim itu, jika mengunjungi saudaranya, berarti selama itu ia berada di taman surga.” (HR Muslim).

Ali ra menuturkan bahwa Rosuulullooh ﷺ pun pernah bersabda, “Tidaklah seorang Muslim mengunjungi Muslim yang lain pada pagi hari, kecuali seribu malaikat mendo'akan dirinya hingga sore hari. Jika ia mengunjungi Muslim yang lain pada siang hari, seribu malaikat akan mendoakannya hingga pagi hari.” (HR at-Tirmidzi).

Karena bersaudara, di antara kaum Mukmin haram saling mencela, menyakiti, apalagi saling membunuh. Baginda Rosuulullooh SAW bersabda, “Mencela seorang Muslim adalah kefasikan, sementara membunuhnya adalah kekufuran.” (HR al-Bukhori dan Muslim).

Haram pula di antara sesama Mukmin saling menzalimi dan saling tidak peduli. Sebaliknya, mereka wajib untuk saling membantu dan tolong-menolong dengan saling menghilangkan kesulitan, bahkan sekadar menutup aib saudaranya. Rosuulullooh ﷺ pernah bersabda, sebagaimana dituturkan oleh Ibn Umar, “Muslim itu saudara bagi Muslim yang lain. Ia tidak saling menzdholimi dan saling membiarkan. Siapa saja yang menghilangkan suatu kesulitan dari seorang Muslim, maka Allooh ﷻ akan menghilangkan kesulitan bagi dirinya di antara berbagai kesulitan pada Hari Kiamat kelak. Siapa saja yang menutupi aib seorang Muslim, Allooh pasti akan menutupi aibnya pada Hari Kiamat nanti.” (Muttafaq a’laih).

Rosuulullooh ﷺ juga pernah bersabda, sebagaimana dituturkan oleh Abu Hurairoh ra. “Muslim itu saudara bagi Muslim yang lain. Ia tidak saling mengkhianati, saling mendustakan dan saling menghinakan. Setiap Muslim adalah haram bagi Muslim yang lain menyangkut kehormatan, harta dan darahnya.” (HR at-Tirmidzi).

Bahkan dalam sebuah hadits qudsi, ketidakpedulian seorang Muslim terhadap Muslim lainnya seolah-olah disamakan dengan ketidakpedulian terhadap Allooh ﷻ. Dalam hal ini, Abu Hurairoh ra menuturkan bahwa Baginda Rosuululullooh ﷺ pernah bersabda: Sesungguhnya Allooh ﷻ berkata pada Hari Kiamat nanti, “Wahai manusia, Aku pernah sakit. Mengapa engkau tidak menjenguk Aku.” Manusia menjawab, “Tuhanku, bagaimana aku menjenguk Engkau, sementara Engkau adalah Tuhan alam semesta?” Allooh ﷻ berkata, “Bukankah engkau dulu tahu hamba-Ku si fulan pernah sakit di dunia, tetapi engkau tidak menjenguknya? Bukankah engkau pun tahu, andai engkau menjenguk dia, engkau akan mendapati Diri-Ku di sisinya? Wahai manusia, Aku pernah meminta makan kepada engkau di dunia, tetapi engkau tidak memberi Aku makan.” Manusia menjawab, “Tuhanku, bagaimana aku memberi Engkau makan, sementara Engkau adalah Tuhan alam semesta?” Allooh ﷻ menjawab, “Bukankah engkau tahu, hamba-Ku pernah meminta makan kepada engkau, tetapi engkau tidak memberi dia makan? Bukankah andai engkau memberi dia makan, engkau mendapati Diri-Ku ada di situ?” Wahai manusia, Aku pernah meminta minum kepada engkau, tetapi engkau tidak memberi Aku minum?” Manusia berkata, “Tuhanku, bagaimana aku memberi Engkau minum, sementara engkau adalah Tuhan alam semesta?” Allooh ﷻ menjawab, “Bukankah engkau tahu, hamba-Ku pernah meminta makan kepada engkau di dunia, tetapi engkau tidak memberi dia makan? Bukankah andai engkau memberi dia makan, engkau mendapati Diri-Ku ada di situ?” (HR Muslim).

Beliau pernah bersabda, “Tolonglah saudaramu, baik pelaku kezaliman maupun korban yang dizalimi.” Seorang sahabat bertanya, “Wahai Rosuulullooh, saya menolongnya jika ia didzholimi. Lalu bagaimana saya harus menolong orang yang melakukan kezaliman?” Rosuul menjawab, “Cegahlah dia dari berlaku zalim. Itulah bentuk pertolongan kamu kepadanya.” (HR al-Bukhori).

Pastinya, persaudaraan Islam (ukhuwah islamiyah) itu bersifat universal; lintas etnik, suku/bangsa, bahasa; juga lintas daerah, negara bahkan benua.

Wama tawfiqi illa billaah.

Muslimah HTI: Bahaya Sekulerisasi Pendidikan, Pintu Masuk Penjajahan Barat


Jakarta - Divisi Muslimah Kantor Media Pusat Hizbut Tahrir, bekerjasama dengan Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia menyelenggarakan sebuah konferensi perempuan internasional yang fenomenal di Jakarta, Indonesia, dengan judul, “Khilafah & Pendidikan: Menghidupkan Kembali Masa Keemasan” untuk mengatasi krisis pendidikan yang saat ini melanda dunia Muslim, Sabtu, 11 Maret 2017.
Konferensi ini dihadiri sekitar 1700 perempuan berpengaruh, termasuk guru, dosen, ulama, dan para pakar di bidang pendidikan lainnya, serta mahasiswa, aktivis mahasiswa, tokoh masyarakat, jurnalis, dan perwakilan organisasi.
Sementara orator yang hadir berasal dari Indonesia, Inggris, Malaysia, Palestina, Belanda, Turki dan negara lainnya. Mereka menguak tuntas problem pendidikan global, bahaya sekulerisasi pendidikan sebagai pintu masuk penjajahan Barat di negeri-negeri Islam dan bagaimana Islam menawarkan konsep pendidikan terbaik untuk mengatasinya.
Fika Komara dari Divisi Kantor Media Hizbut Tahrir wilayah Asia Tenggara mengatakan, pendidikan adalah metode untuk menjaga akidah. Maka ketika pendidikan dipisahkan dari agama, tamatlah riwayat agama. “Tsaqofah Islam dihapuskan dari pendidikan, maka terhapuslah identitas umat,” katanya.
Sementara itu, Dr Nazreen Nawaz dari Divisi Muslimah Kantor Pusat Hizbut Tahrir menjabarkan hebatnya visi pendidikan era Khilafah. Ia menyebut, ada tiga tujuan utama pendidikan Islam, yakni pertama, membangun syakhsiyah Islam. Anak didik dibangun aqidah Islamnya sebelum mempelajari ilmu-ilmu lainnya.
Kedua, mengajarkan keterampilan dan pengetahuan praktis untuk kehidupan. Para murid diajarkan keterampilan dan pengetahuan yang mereka butuhkan untuk berinteraksi dengan lingkungan mereka. Seperti matematika, sains umum, serta pengetahuan dan keterampilan untuk menggunakan berbagai alat dan penemuan. Ketiga, mempersiapkan murid untuk memasuki pendidikan tinggi atau universitas.
Di sinilah diajarkan ilmu-ilmu utama yang menjadi prasyarat, apakah ilmu budaya atau tsaqafah seperti Fiqh, Bahasa Arab, atau Tafsir Alquran, ataupun ilmu empiris seperti matematika, kimia, biologi, atau fisika.
Juru Bicara Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia, Iffah Ainur Rochmah menambahkan, pendidikan Islam bukan sekadar sekolah Islam terpadu, tapi kebijakan politik di bidang pendidikan yang komprehensif yang diterapkan oleh negara melalui institusi Khilafah.

Sejarah emas di era Khilafah mencatat, pendidikan Islam menghasilkan para ahli di segala bidang. Bahkan melahirkan generasi terbaik yang tidak hanya ahli di bidang sains dan teknologi, juga memiliki kepribadian Islam dan mampu menghantarkan Isam sebagai peradaban nomor satu dunia. Itulah abad keemasan di masa Khilafah.
Iffah mengatakan, peradaban maju karena ditopang oleh kebijakan pendidikan yang komprehensif, berbasis aqidah Islam. Negara menjamin hak warga muslim maupun nonmuslim, laki-laki maupun perempuan dalam pendidikan secara maksimal. Namun zaman kegemilangan itu redup berubah menjadi zaman kegelapan seiring runtuhnya Khilafah.
Kini, generasi Muslim harus bahu membahu membangun kepribadian Islam di sekolah-sekolah di tengah kepungan nilai-nilai dan hukum sekuler. Sungguh berat. Tidak mudah mencetak generasi Islam di dalam habitat peradaban sekuler. Karena sesungguhnya, kepribadian Islam yang kuat tidak dapat dibangun secara massif pada generasi muda kita tanpa adanya Khilafah.

Zaman Amar Ma'rur dan Nahi Munkar Ditinggalkan


Anas bin Malik berkata:

قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَتَى نَدَعُ الائْتِمَارَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيَ عَنْ الْمُنْكَرِ قَالَ إِذَا ظَهَرَ فِيكُمْ مَا ظَهَرَ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ إِذَا كَانَتْ الْفَاحِشَةُ فِي كِبَارِكُمْ وَالْمُلْكُ فِي صِغَارِكُمْ وَالْعِلْمُ فِي رُذَالِكُمْ


Ditanyakanlah kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, kapan kami akan meninggalkan amar makruf dan nahi munkar?” Beliau menjawab, “Jika muncul di tengah kalian suatu perkara yang pernah muncul pada zaman Bani Israil, yaitu perbuatan keji dilakukan oleh para pembesar, pemerintahan dipegang oleh anak-anak kecil, dan ilmu berada di tangan orang-orang yang (bermental) rendah.”(HR. Ibnu Majah, Al-Fitan, hadits no. 4015 [Sunan Ibnu Mâjah: 2/1331)

Membaca sirah kehidupan para salaf, kita akan dapati kisah mereka bertabur semangat amar ma’ruf dan nahi munkar. Mereka sadar bila hidup mereka bagai satu kaum yang berada dalam satu bahtera; semua harus kompak menjaga kapal tersebut agar tidak rusak. Satu orang yang melubangi bagian bawah kapal karena ingin mengambil air dengan cara praktis dibiarkan, maka yang tenggelam bukan hanya si pelubang kapal. Namun seluruh penumpang juga akan tenggelam bersama. Kisah Umar bin Khattab di saat menjelang sakaratul maut yang menegur pemuda berpakaian isbal dan kisah anak kecil yang menegur Imam Abu Hanifah supaya berhati-hati agar tidak tergelincir, adalah sedikit contoh bagaimana semangat mereka untuk selalu menjadikan amar ma’ruf dan nahi munkar sebagai bagian penting kehidupan mereka.

Adalah Anas bin Malik, salah seorang sahabat nabi yang selalu mendampingi Nabi SAW merasa khawatir bila pola hidup dan tradisi ini suatu saat akan lenyap. Maka beliau bertanya kepada RasulullahSAW tentang datangnya masa di mana kaum muslimin akan meninggalkan amar ma’ruf dan nahi munkar.

Riwayat di atas menjelaskan ada tiga ciri zaman di mana kaum muslimin akan kesulitan, atau nyarismerasa putus asa untuk melaksanakan ibadah amar ma’ruf dan nahi munkar. Ciri zaman itu mirip seperti yang pernah berlaku pada masyarakat Bani Israel;

Pertama, Para penguasa dan pembesarnya sangat rusak moralnya, lantaran hobi mereka berbuat fakhisyah/ zina dan semua produk turunannya.Ketika para pelaku maksiat dan fakhisyah ini adalah para penguasa (politik maupun ekonomi), maka umat Islam akan sangat berat untuk melakukan nahi munkar atas mereka. Sebab, para penguasa ini lazim memiliki backing yang kuat untuk melindungi kemaksiatan yang mereka lakukan.

Para pembesar dan penguasa ini bisa membayar para preman dan polisi untuk mengamankan perbuatan keji mereka. Dan inilah fakta yang terjadi, dimana kaum muslimin yang ingin menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar akan berhadapan dengan kekuatan para preman bayaran ini. Banyaknya korban umat Islam dan semakin kuatnya backing penguasa ini membuat kaum muslimin putus asa dan merasa tidak banyak manfaat amar ma’ruf dan nahi munkar yang mereka lakukan.

Kedua,ketika kekuasaan dipegang oleh mereka yang masih belia. Makna shighar bisa berarti belia secara usia biologis namun juga bisa bermakna belia secara psikologis dan ideologis.Watak dominan anak muda adalah ceroboh, tergesa-gesa, serta mudah menurutkan hawa nafsunya. Jika demikian, maka tatanan masyarakat akan menjadi sangat rapuh dan permisif. Sebab, standar hidup mereka akan kepuasan syahwat. Namun, jika yang dimaksud dengan shigharuhum itu adalah orang-orang bermental rendah, fasik dan fajir, maka bencana yang akan terjadi lebih besar. Berdasarkan berbagai riwayat yang ada, makna shigharyang berarti orang-orang rendahan dan fasik adalah yang lebih kuat.

Inilah yang sedang kita saksikan. Ketika para penguasa adalah mereka yang bermental rendah, fasik dan fajir, pendosa dan sangat hobi dengan maksiat, lagi-lagi amar ma’ruf dan nahi munkar akan menjadi tumpul. Sebab –sekali lagi- para penguasa bermental rendah itu akan sewenang-wenang dengan kekuasaannya. Dan, nyaris sebagian besar program mereka saat berkuasa adalah melestrarikan kemaksiatan dan kemunkaran.

Ketiga, orang-orang fasik yang mempermainkan ilmu agama. Jika ilmu dipegang oleh orang-orang yang fasik, bisa dibayangkan mereka akan mempermainkan ilmu yang ada pada dirinya dengan berbagai takwilan tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menyesatkan. Mereka juga menggunakan kedua sumber ini untuk memperturutkan kehendak hawa nafsunya.

Kelompok JIL dan para pendukungnya, dengan segenap kekuatan finansial dan sayap medianya akan menyebarkan syubhat dan kerancuan berfikir ke tengah umat. Hal yang membuat siapapun akan berfikir panjang untuk mendebat dan melawan pemikiran rusak mereka. Sebab, mereka sangat lihai bersilat lidah. Pun, jika para ulama yang tsiqah bisa mematahkan hujjah mereka, maka segenap jejaring sosial dan media sekuler akan segera membungkam berita tersebut agar tidak tersebar ke tengah umat. Jika mereka sedikit berada di atas angin, maka media-media sekuler itu akan ramai memblow-up, hingga seakan pelaku amar ma’ruf nahi munkar itu akan terpojok, lalu dihujat bersama sebagai kelompok anarkis, anti demokrasi atau bahkan dianggap kekanak-kanakan.

Inilah zaman dimana ketiga ciri itu sangat nyata kita saksikan hari ini. Ciri yang dominan adalah kolaborasi kejahatan ulamanya dan kebejatan penguasanya; dua musuh utama yang membuat amar ma’ruf nahi munkar nyaris tidak berfungsi. Sebab, kedua akan bermain besi.Yang perlu diingat, isyarat hadits di atas bukan legimitasi meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar secara total.Namun lebih kepada penggambaran betapa beratnya ibadah amar ma’ruf dan nahi munkar di akhir zaman. Wallahu a’lam bish shawab.

Dasar Hukum Melangkahkan Kaki Ke Masjid


Beruntunglah orang yang melangkahkan kakinya ke masjid, baik untuk Mencari ilmu (ngaji & musyawaroj), Solat (wajib, jumat, sunnah),  maupun amalsolih Pembangunan Masjid.
Sekurang-kurangnya mereka mendapat 11 ganjaran pahala dari Alloh sebagai berikut;

1- Rasulullah berpesan: "Jika kamu melihat seseorang yang sentiasa ke masjid, maka Saksikanlah bahwa dia orang beriman. Allah berfirman: 'Sesungguhnya orang yang memeriahkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman dengan Allah dan hari akhirat (QS. At-Tawbah: 18). "
(HR. Ibnu Majah)

2- Rasulullah bersabda: "Barang Siapa yang pergi ke masjid jamaah, maka pada tiap satu langkah dihapuskan dosa, pada langkah lain dicatatkan pahala, baik untuk pergi atau pulang."
(HR. Ahmad, HR. Ibnu Majah)

3- Rasulullah bersabda: "Tidak ada seorang Muslimin yang sentiasa menghadirkan dirinya ke masjid-masjid untuk solat dan zikir melainkan Allah gembira menyambutnya sebagaimana ahli keluarga yang bergembira menyambut saudaranya yang sudah lama menghilang."
(HR. Ibnu Majah)



Photobucket

4- Rasulullah bersabda: "Ada tiga golongan semuanya dijamin Allah; ketika hidup dia diberikan rezeki dan kecukupan, apabila mati dia masuk syurga:
i.  Brgsiapa yang masuk ke rumahnya dengan memberi salam, maka dia dijamin Allah.
ii. Brgsiapa yang keluar rumah untuk ke masjid, maka dia dijamin Allah.
iii. Brgsiapa yang keluar demi untuk berjuang di jalan Allah, maka dia dijamin Allah. 
(HR.Bukhori dalam Adab al-Mufrad)

5- Rasulullah bersabda: "Tidak berkumpul suatu kaum di mana-mana rumah Allah, mereka membaca kitab Allah (Quran) dan mengkajinya sesama mereka, melainkan diturunkan kepada mereka ketenangan, diliputi rahmat dan malaikat meneduhi mereka dan Allah menyebut-nyebut mereka di depan malaikat-malaikat." 
(HR. Muslim)

6- Rasulullah bersabda: "Ada tujuh golongan yang akan dinaungkan Allah dengan naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya...seseorang yang hatinya terpaut pada masjid-masjid." 
(HR. Bukhori)
Dalam Hadist riwayat Imam Malik: 
"Seseorang yang hatinya terpaut pada masjid sehingga dia kembali ke situ semula."

7- Rasulullah bersabda: "Berilah khobar gembira kepada orang yang selalu berjalan kaki dalam kegelapan malam demi menuju ke masjid bahawa untuknya cahaya sempurna pada hari kiamat." 
(HR. At-Tirmidzi)

8- Rasulullah bersabda: "Barang Siapa yang solat berjamaah dengan takbir pertama diniati Karena Allah berturut turut selama 40 hari , dicatatkan untuknya dua pelepasan; pelepasan dari neraka dan pelepasan dari sifat munafik." 
(HR. At-Tirmidzi)

9. Rasulullah bersabda: "Masjid adalah rumah setiap orang bertakwa. Allah telah menjamin brgsiapa yang menjadikan masjid  ibarat rumahnya dengan keluasan, pertolongan dan kemudahan melewati Siroth (jembatan) menuju kpd keridhoan Tuhan." 
(Riwayat al-Baihaqi)

10- Rasulullah berasabda: "Brgsiapa yang berpergian pada waktu awal pagi atau petang menuju ke masjid, Allah akan menyediakan baginya tempat atau hidangan di dalam syurga setiap kali dia pergi ke masjid pada awal pagi dan petang." 
(HR. Ahmad)

11- Allah berfirman: "Demikianlah, dan brgsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah maka karena hal itu satu tanda ketakwaan hati." 
(QS. Al-Hajj 22: 32)
Dan Allah juga berfirman: "Sesungguhnya orang paling mulia di sisi Allah ialah yang paling bertakwa."  
(QS. Al-Hujurat 49: 13)

Ya Allah semoga engkau jadikan kami mudah & enteng dalam melangkahkan kaki kami menuju masjid dunia agar supaya kami termasuk dalam penghuni ahli VIP-Mu di syurga firdaus kelak.

"Ya Allah, bantulah kami untuk kuat terus mengingati-Mu, bersyukur kepada-Mu dan melakukan ibadah yang terbaik untuk-Mu."
(HR. Abu Dawud)

Salah Tempat Bagi Feminisme


Tiap April kita disuguhi barisan cewek dandan. Dari anak TK sampai nenek-nenek dandan menor pakai kebaya tampil di muka umum. Tiap April selalu hangat diobrolin sosok R.A. Kartini. Makin ke sini kayaknya makin besar kritisisme masyarakat. Apa Kartini emang sosok yang paling tepat sebagai ikon wanita Indonesia, atau sebenarnya ada yang lebih layak darinya?

Pengungkapan sosok Kartini selalu dikaitkan dengan opini kalo perempuan Indonesia zaman dulu diposisikan rendah. Bukti sejarah yang ditampilkan adalah surat-surat Kartini kepada dua perempuan Belanda yang jadi teman curhatnya. Surat-surat itu dikumpulkan dan dibukukan dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang, dan jadi terkenal banget.

Remaja Muslim nggak selayaknya menelan mentah-mentah opini itu. Di sini kita bakal mencoba menguak sejarah Muslimah Indonesia zaman dulu.

Kebudayaan adalah hasil kreasi manusia yang dipengaruhi oleh ideologi dan agama. Hasil penelusuran sejarah menunjukkan kalo kebudayaan di Indonesia sejak masuknya Islam sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai Islam. Islam jelas banget nggak menganggap wanita sebagai makhluk yang hina. Menurut Islam, laki-laki dan perempuan itu setara. Yang membedakan kemuliaan manusia bukanlah jenis kelamin, melainkan ketaqwaannya.

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakanmu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antaramu di sisi Allooh adalah orang yang paling bertaqwa. Sungguh, Allooh Maha Mengetahui, Mahateliti.” (al-Hujuraat: 13).

Terhadap laki-laki dan perempuan, Islam cuma membedakan secara proporsional sesuai fitrahnya. Ngasih hak dan kewajiban  seadil-adilnya.

So, kalo Islam mengajarkan demikian, budaya bangsa Indonesia tentu juga sejalan. Keliru kalo ada anggapan, pada zaman dulu wanita Indonesia direndahkan.

Sejarah membuktikan, di zaman Kartini hidup, di Sumatra ada sosok wanita pejuang pendidikan bernama Rohana Kudus. Muslimah ini mulanya gencar melawan penjajahan lewat surat kabar yang dipimpinnya. Karena perlawanan itu, surat kabarnya dibreidel sama Belanda. Tapi ia nggak menyerah, ia melanjutkan perjuangan dengan mendirikan sekolah. Sekolahnya lebih besar daripada milik Kartini yang didengung-dengungkan.

Jauh sebelum itu, pada abad ke-16, istri Sultan Iskandar Muda II diangkat jadi ratu. Kisahnya, waktu itu Sultan wafat, sementara ia nggak punya anak. Musyawarah menyimpulkan kalo nggak ada sosok lain yang lebih mumpuni untuk menggantikan Sultan selain sang istri. So, diangkatlah Shafiyatuddin, istrinya. Pengangkatan wanita jadi kepala pemerintahan saat itu udah melalui ijtihad ulama. Ulama besar waktu itu adalah ar-Raniri.

Saat memerintah, Shafiyatuddin punya angkatan bersenjata wanita yang beranggotakan para janda. Panglima besarnya juga wanita, Panglima Malahayati.

Sementara, pada abad yang sama, perempuan Eropa berada dalam posisi terhina. Gaji jauh lebih rendah daripada laki-laki, dan mereka nggak boleh pegang jabatan publik. Kenapa begitu? Sekali lagi, kebudayaan suatu bangsa dipengaruhi ideologi dan agama. Masyarakat Kristen Eropa percaya kalo Adam berbuat dosa karena ulah Hawa. So, mereka menganggap perempuan sebagai makhluk yang merugikan. Bahkan sekte yang ekstrim berpendapat kalo perempuan adalah makhluk setengah setan, dan akan jadi setan seutuhnya waktu datang bulan.

Di Eropa, pendidikan buat kaum perempuan baru dimulai pada abad ke-20. Sebelum itu, perempuan Eropa dipaksakan jadi orang bodoh. Padahal, pada abad ke-7, di dunia Islam udah lahir sosok-sosok wanita cendikia. Ada Khadijah rodhiyalloohu ‘anha yang jadi saudagar besar, ada Aisyah rodhiyalloohu ‘anha yang banyak meriwayatkan hadits dalam usianya yang belia.

Jelaslah, penokohan Kartini dengan emansipasinya sarat kepantingan politik. Ini dijadikan pintu masuk gerakan feminisme di Indonesia. Gerakan yang mengada-ada. Kalo feminisme di Eropa itu wajar, tapi kalo di Indonesia ya salah tempat.

So, udah, deh, nggak usah ikut Kartinian lagi!

Walloohu a’lam.
⇧
Top