ads

Slider[Style1]


ads

Berita

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

RONTOKNYA AKTIVIS DAKWAH SELEPAS NIKAH

Ilustrasi Rontoknya semangat

Belakangan ini Nun seperti anggota grup vokal yang sedang mengambil jalur “solo karier”. Menyanyi seorang diri. Sayangnya, Nun bukan anggota grup vokal yang senang menyumbang suara sumbang. Nun hanya kader dakwah yang merasakan kesunyian membunyikan suara di barisan kerohanian Islam. Rekan-rekan dakwahnya menghilang.
Rekan pertamanya sudah menikah. Rekan keduanya sudah menikah juga dan rekan ketiganya juga. Ketiga rekan yang tergabung dalam satu departemen itu dulu adalah sosok-sosok yang aktif bergerak dalam barisan yang rapi. Aktif bervokal dalam ranah lokal. Tak pasif melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan, kemanusiaan, daurah, pantia qurban dan sebagainya. Namun semua berubah pascamenikah. Nun, yang masih melajang, melihat betapa menikah itu ruang berbenah. Juga tohok telak baginya.
Pernah kah merasakan (atau mengalami?) apa yang dirasakan Nun dan yang terjadi pada kawan-kawan perjuangannya yang mengalami keloyoan pasca nikah?
Seorang kawan yang tinggal di Depok mengaku pernah mengalami fase seperti ini.
“Sekitar 6 bulan saya pernah vakum setelah menikah. Tidak muncul dalam kegiatan dakwah, banyak ditanyakan ikhwah. Setelah merasa cukup adaptasi dengan istri, saya kembali berdakwah, aktif lagi.” Ucapnya kepada penulis pada suatu malam.
Banyak yang bilang ta’aruf yang sebenarnya itu ketika setelah menikah. Awal-awal menikah juga perlu ‘adaptasi’, menikmati ‘dunia milik berdua’ dengan suami atau istri, bisa sampai enam bulan atau setahun (?). Yang kelewatan itu jika raib dari peredaran pergerakan padahal tugas dakwah di depan mata sudah menunggu si ‘pengantin baru’ itu. Belum lagi nanti ketika terlena ketika hadirnya baby yang menggemaskan, padahal“Ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allooh lah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfaal: 28).
Ada itu di sebuah halaqah bahasa Arab, para pesertanya yang tadinya ramai kini kosong melompong. Sebab, para pesertanya sudah menikah.
Jika masih mengenaskan, coba tengok kembali; apa tujuan menikah?
Apakah benar untuk menggenapkan setengah din?
Seharusnya setelah menikah ruhiyah itu makin gagah. Makin rajin tilawah, dakwah tak kenal kata ogah, hafalan makin nambah, tak sering bolos halaqah.
Jika setelah menikah ruhiyah makin payah, mungkin menikah bukan lagi menggenapkan setengah agama, tapi membuat beragama jadi setengah-tengah. Bukan alfu mabruk tapi alfu ambruk. Walloohu a’lam.

Zaman Amar Ma'rur dan Nahi Munkar Ditinggalkan


Anas bin Malik berkata:

قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَتَى نَدَعُ الائْتِمَارَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيَ عَنْ الْمُنْكَرِ قَالَ إِذَا ظَهَرَ فِيكُمْ مَا ظَهَرَ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ إِذَا كَانَتْ الْفَاحِشَةُ فِي كِبَارِكُمْ وَالْمُلْكُ فِي صِغَارِكُمْ وَالْعِلْمُ فِي رُذَالِكُمْ


Ditanyakanlah kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, kapan kami akan meninggalkan amar makruf dan nahi munkar?” Beliau menjawab, “Jika muncul di tengah kalian suatu perkara yang pernah muncul pada zaman Bani Israil, yaitu perbuatan keji dilakukan oleh para pembesar, pemerintahan dipegang oleh anak-anak kecil, dan ilmu berada di tangan orang-orang yang (bermental) rendah.”(HR. Ibnu Majah, Al-Fitan, hadits no. 4015 [Sunan Ibnu Mâjah: 2/1331)

Membaca sirah kehidupan para salaf, kita akan dapati kisah mereka bertabur semangat amar ma’ruf dan nahi munkar. Mereka sadar bila hidup mereka bagai satu kaum yang berada dalam satu bahtera; semua harus kompak menjaga kapal tersebut agar tidak rusak. Satu orang yang melubangi bagian bawah kapal karena ingin mengambil air dengan cara praktis dibiarkan, maka yang tenggelam bukan hanya si pelubang kapal. Namun seluruh penumpang juga akan tenggelam bersama. Kisah Umar bin Khattab di saat menjelang sakaratul maut yang menegur pemuda berpakaian isbal dan kisah anak kecil yang menegur Imam Abu Hanifah supaya berhati-hati agar tidak tergelincir, adalah sedikit contoh bagaimana semangat mereka untuk selalu menjadikan amar ma’ruf dan nahi munkar sebagai bagian penting kehidupan mereka.

Adalah Anas bin Malik, salah seorang sahabat nabi yang selalu mendampingi Nabi SAW merasa khawatir bila pola hidup dan tradisi ini suatu saat akan lenyap. Maka beliau bertanya kepada RasulullahSAW tentang datangnya masa di mana kaum muslimin akan meninggalkan amar ma’ruf dan nahi munkar.

Riwayat di atas menjelaskan ada tiga ciri zaman di mana kaum muslimin akan kesulitan, atau nyarismerasa putus asa untuk melaksanakan ibadah amar ma’ruf dan nahi munkar. Ciri zaman itu mirip seperti yang pernah berlaku pada masyarakat Bani Israel;

Pertama, Para penguasa dan pembesarnya sangat rusak moralnya, lantaran hobi mereka berbuat fakhisyah/ zina dan semua produk turunannya.Ketika para pelaku maksiat dan fakhisyah ini adalah para penguasa (politik maupun ekonomi), maka umat Islam akan sangat berat untuk melakukan nahi munkar atas mereka. Sebab, para penguasa ini lazim memiliki backing yang kuat untuk melindungi kemaksiatan yang mereka lakukan.

Para pembesar dan penguasa ini bisa membayar para preman dan polisi untuk mengamankan perbuatan keji mereka. Dan inilah fakta yang terjadi, dimana kaum muslimin yang ingin menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar akan berhadapan dengan kekuatan para preman bayaran ini. Banyaknya korban umat Islam dan semakin kuatnya backing penguasa ini membuat kaum muslimin putus asa dan merasa tidak banyak manfaat amar ma’ruf dan nahi munkar yang mereka lakukan.

Kedua,ketika kekuasaan dipegang oleh mereka yang masih belia. Makna shighar bisa berarti belia secara usia biologis namun juga bisa bermakna belia secara psikologis dan ideologis.Watak dominan anak muda adalah ceroboh, tergesa-gesa, serta mudah menurutkan hawa nafsunya. Jika demikian, maka tatanan masyarakat akan menjadi sangat rapuh dan permisif. Sebab, standar hidup mereka akan kepuasan syahwat. Namun, jika yang dimaksud dengan shigharuhum itu adalah orang-orang bermental rendah, fasik dan fajir, maka bencana yang akan terjadi lebih besar. Berdasarkan berbagai riwayat yang ada, makna shigharyang berarti orang-orang rendahan dan fasik adalah yang lebih kuat.

Inilah yang sedang kita saksikan. Ketika para penguasa adalah mereka yang bermental rendah, fasik dan fajir, pendosa dan sangat hobi dengan maksiat, lagi-lagi amar ma’ruf dan nahi munkar akan menjadi tumpul. Sebab –sekali lagi- para penguasa bermental rendah itu akan sewenang-wenang dengan kekuasaannya. Dan, nyaris sebagian besar program mereka saat berkuasa adalah melestrarikan kemaksiatan dan kemunkaran.

Ketiga, orang-orang fasik yang mempermainkan ilmu agama. Jika ilmu dipegang oleh orang-orang yang fasik, bisa dibayangkan mereka akan mempermainkan ilmu yang ada pada dirinya dengan berbagai takwilan tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menyesatkan. Mereka juga menggunakan kedua sumber ini untuk memperturutkan kehendak hawa nafsunya.

Kelompok JIL dan para pendukungnya, dengan segenap kekuatan finansial dan sayap medianya akan menyebarkan syubhat dan kerancuan berfikir ke tengah umat. Hal yang membuat siapapun akan berfikir panjang untuk mendebat dan melawan pemikiran rusak mereka. Sebab, mereka sangat lihai bersilat lidah. Pun, jika para ulama yang tsiqah bisa mematahkan hujjah mereka, maka segenap jejaring sosial dan media sekuler akan segera membungkam berita tersebut agar tidak tersebar ke tengah umat. Jika mereka sedikit berada di atas angin, maka media-media sekuler itu akan ramai memblow-up, hingga seakan pelaku amar ma’ruf nahi munkar itu akan terpojok, lalu dihujat bersama sebagai kelompok anarkis, anti demokrasi atau bahkan dianggap kekanak-kanakan.

Inilah zaman dimana ketiga ciri itu sangat nyata kita saksikan hari ini. Ciri yang dominan adalah kolaborasi kejahatan ulamanya dan kebejatan penguasanya; dua musuh utama yang membuat amar ma’ruf nahi munkar nyaris tidak berfungsi. Sebab, kedua akan bermain besi.Yang perlu diingat, isyarat hadits di atas bukan legimitasi meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar secara total.Namun lebih kepada penggambaran betapa beratnya ibadah amar ma’ruf dan nahi munkar di akhir zaman. Wallahu a’lam bish shawab.

Dasar Hukum Melangkahkan Kaki Ke Masjid


Beruntunglah orang yang melangkahkan kakinya ke masjid, baik untuk Mencari ilmu (ngaji & musyawaroj), Solat (wajib, jumat, sunnah),  maupun amalsolih Pembangunan Masjid.
Sekurang-kurangnya mereka mendapat 11 ganjaran pahala dari Alloh sebagai berikut;

1- Rasulullah berpesan: "Jika kamu melihat seseorang yang sentiasa ke masjid, maka Saksikanlah bahwa dia orang beriman. Allah berfirman: 'Sesungguhnya orang yang memeriahkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman dengan Allah dan hari akhirat (QS. At-Tawbah: 18). "
(HR. Ibnu Majah)

2- Rasulullah bersabda: "Barang Siapa yang pergi ke masjid jamaah, maka pada tiap satu langkah dihapuskan dosa, pada langkah lain dicatatkan pahala, baik untuk pergi atau pulang."
(HR. Ahmad, HR. Ibnu Majah)

3- Rasulullah bersabda: "Tidak ada seorang Muslimin yang sentiasa menghadirkan dirinya ke masjid-masjid untuk solat dan zikir melainkan Allah gembira menyambutnya sebagaimana ahli keluarga yang bergembira menyambut saudaranya yang sudah lama menghilang."
(HR. Ibnu Majah)



Photobucket

4- Rasulullah bersabda: "Ada tiga golongan semuanya dijamin Allah; ketika hidup dia diberikan rezeki dan kecukupan, apabila mati dia masuk syurga:
i.  Brgsiapa yang masuk ke rumahnya dengan memberi salam, maka dia dijamin Allah.
ii. Brgsiapa yang keluar rumah untuk ke masjid, maka dia dijamin Allah.
iii. Brgsiapa yang keluar demi untuk berjuang di jalan Allah, maka dia dijamin Allah. 
(HR.Bukhori dalam Adab al-Mufrad)

5- Rasulullah bersabda: "Tidak berkumpul suatu kaum di mana-mana rumah Allah, mereka membaca kitab Allah (Quran) dan mengkajinya sesama mereka, melainkan diturunkan kepada mereka ketenangan, diliputi rahmat dan malaikat meneduhi mereka dan Allah menyebut-nyebut mereka di depan malaikat-malaikat." 
(HR. Muslim)

6- Rasulullah bersabda: "Ada tujuh golongan yang akan dinaungkan Allah dengan naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya...seseorang yang hatinya terpaut pada masjid-masjid." 
(HR. Bukhori)
Dalam Hadist riwayat Imam Malik: 
"Seseorang yang hatinya terpaut pada masjid sehingga dia kembali ke situ semula."

7- Rasulullah bersabda: "Berilah khobar gembira kepada orang yang selalu berjalan kaki dalam kegelapan malam demi menuju ke masjid bahawa untuknya cahaya sempurna pada hari kiamat." 
(HR. At-Tirmidzi)

8- Rasulullah bersabda: "Barang Siapa yang solat berjamaah dengan takbir pertama diniati Karena Allah berturut turut selama 40 hari , dicatatkan untuknya dua pelepasan; pelepasan dari neraka dan pelepasan dari sifat munafik." 
(HR. At-Tirmidzi)

9. Rasulullah bersabda: "Masjid adalah rumah setiap orang bertakwa. Allah telah menjamin brgsiapa yang menjadikan masjid  ibarat rumahnya dengan keluasan, pertolongan dan kemudahan melewati Siroth (jembatan) menuju kpd keridhoan Tuhan." 
(Riwayat al-Baihaqi)

10- Rasulullah berasabda: "Brgsiapa yang berpergian pada waktu awal pagi atau petang menuju ke masjid, Allah akan menyediakan baginya tempat atau hidangan di dalam syurga setiap kali dia pergi ke masjid pada awal pagi dan petang." 
(HR. Ahmad)

11- Allah berfirman: "Demikianlah, dan brgsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah maka karena hal itu satu tanda ketakwaan hati." 
(QS. Al-Hajj 22: 32)
Dan Allah juga berfirman: "Sesungguhnya orang paling mulia di sisi Allah ialah yang paling bertakwa."  
(QS. Al-Hujurat 49: 13)

Ya Allah semoga engkau jadikan kami mudah & enteng dalam melangkahkan kaki kami menuju masjid dunia agar supaya kami termasuk dalam penghuni ahli VIP-Mu di syurga firdaus kelak.

"Ya Allah, bantulah kami untuk kuat terus mengingati-Mu, bersyukur kepada-Mu dan melakukan ibadah yang terbaik untuk-Mu."
(HR. Abu Dawud)

Kunjungan Majelis Ulama Libanon untuk Dukungan Palestina

Kunjungan Majelis Ulama Libanon untuk Dukungan Palestina 10/05/2018

Salah Tempat Bagi Feminisme


Tiap April kita disuguhi barisan cewek dandan. Dari anak TK sampai nenek-nenek dandan menor pakai kebaya tampil di muka umum. Tiap April selalu hangat diobrolin sosok R.A. Kartini. Makin ke sini kayaknya makin besar kritisisme masyarakat. Apa Kartini emang sosok yang paling tepat sebagai ikon wanita Indonesia, atau sebenarnya ada yang lebih layak darinya?

Pengungkapan sosok Kartini selalu dikaitkan dengan opini kalo perempuan Indonesia zaman dulu diposisikan rendah. Bukti sejarah yang ditampilkan adalah surat-surat Kartini kepada dua perempuan Belanda yang jadi teman curhatnya. Surat-surat itu dikumpulkan dan dibukukan dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang, dan jadi terkenal banget.

Remaja Muslim nggak selayaknya menelan mentah-mentah opini itu. Di sini kita bakal mencoba menguak sejarah Muslimah Indonesia zaman dulu.

Kebudayaan adalah hasil kreasi manusia yang dipengaruhi oleh ideologi dan agama. Hasil penelusuran sejarah menunjukkan kalo kebudayaan di Indonesia sejak masuknya Islam sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai Islam. Islam jelas banget nggak menganggap wanita sebagai makhluk yang hina. Menurut Islam, laki-laki dan perempuan itu setara. Yang membedakan kemuliaan manusia bukanlah jenis kelamin, melainkan ketaqwaannya.

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakanmu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antaramu di sisi Allooh adalah orang yang paling bertaqwa. Sungguh, Allooh Maha Mengetahui, Mahateliti.” (al-Hujuraat: 13).

Terhadap laki-laki dan perempuan, Islam cuma membedakan secara proporsional sesuai fitrahnya. Ngasih hak dan kewajiban  seadil-adilnya.

So, kalo Islam mengajarkan demikian, budaya bangsa Indonesia tentu juga sejalan. Keliru kalo ada anggapan, pada zaman dulu wanita Indonesia direndahkan.

Sejarah membuktikan, di zaman Kartini hidup, di Sumatra ada sosok wanita pejuang pendidikan bernama Rohana Kudus. Muslimah ini mulanya gencar melawan penjajahan lewat surat kabar yang dipimpinnya. Karena perlawanan itu, surat kabarnya dibreidel sama Belanda. Tapi ia nggak menyerah, ia melanjutkan perjuangan dengan mendirikan sekolah. Sekolahnya lebih besar daripada milik Kartini yang didengung-dengungkan.

Jauh sebelum itu, pada abad ke-16, istri Sultan Iskandar Muda II diangkat jadi ratu. Kisahnya, waktu itu Sultan wafat, sementara ia nggak punya anak. Musyawarah menyimpulkan kalo nggak ada sosok lain yang lebih mumpuni untuk menggantikan Sultan selain sang istri. So, diangkatlah Shafiyatuddin, istrinya. Pengangkatan wanita jadi kepala pemerintahan saat itu udah melalui ijtihad ulama. Ulama besar waktu itu adalah ar-Raniri.

Saat memerintah, Shafiyatuddin punya angkatan bersenjata wanita yang beranggotakan para janda. Panglima besarnya juga wanita, Panglima Malahayati.

Sementara, pada abad yang sama, perempuan Eropa berada dalam posisi terhina. Gaji jauh lebih rendah daripada laki-laki, dan mereka nggak boleh pegang jabatan publik. Kenapa begitu? Sekali lagi, kebudayaan suatu bangsa dipengaruhi ideologi dan agama. Masyarakat Kristen Eropa percaya kalo Adam berbuat dosa karena ulah Hawa. So, mereka menganggap perempuan sebagai makhluk yang merugikan. Bahkan sekte yang ekstrim berpendapat kalo perempuan adalah makhluk setengah setan, dan akan jadi setan seutuhnya waktu datang bulan.

Di Eropa, pendidikan buat kaum perempuan baru dimulai pada abad ke-20. Sebelum itu, perempuan Eropa dipaksakan jadi orang bodoh. Padahal, pada abad ke-7, di dunia Islam udah lahir sosok-sosok wanita cendikia. Ada Khadijah rodhiyalloohu ‘anha yang jadi saudagar besar, ada Aisyah rodhiyalloohu ‘anha yang banyak meriwayatkan hadits dalam usianya yang belia.

Jelaslah, penokohan Kartini dengan emansipasinya sarat kepantingan politik. Ini dijadikan pintu masuk gerakan feminisme di Indonesia. Gerakan yang mengada-ada. Kalo feminisme di Eropa itu wajar, tapi kalo di Indonesia ya salah tempat.

So, udah, deh, nggak usah ikut Kartinian lagi!

Walloohu a’lam.

GEMMA PTDI : Aksi Bela Islam atas Penistaan Agama oleh Sukmawati

Aksi Bela Islam atas Penistaan Agama oleh Sukmawati

Ini Tiga Hikmah Aksi 212 Menurut Ustadz Aris Munandar

Foto: Ustadz Aris Munandar saat memberikan ceramah di Tabligh Akbar, Ahad (18/02/2018)

Solo – Ketua Dewan Dakwah Indonesia (DDII) daerah Jawa Tengah, Ustadz Aris Munandar menyampaikan tiga hikmah yang diberikan oleh Allah pasca gerakan Aksi Bela Islam jilid 3, atau yang sering disebut Aksi 212.

Yang pertama yaitu hadirnya persatuan dan kesatuan, yang membuat umat muslim di Indonesia tidak lagi memandang baju dan organisasi apapun selama itu, selama masih sejalan dengan ajaran yang diwariskan dari Rasulullooh.

“Marilah karunia ini kita jaga sebaik baiknya. Kita senantiasa membangun tali persaudaraan diantara kita semua dan saudara – saudara muslim kita”, ucap Ustadz Aris, pada Ahad (18/02/18), saat mengisi Tabligh Akbar di lapangan Kota Barat, Solo, Jawa Tengah.

Kedua yaitu disadarkannya umat muslim untuk kembali mematuhi komando para ustadz dan ulama, yang tanpa pamrih berjuang menegakkan Islam, dan tidak sedikitpun memiliki keinginan material apapun.

“Mereka (Ustadz dan ulama –red) dengan begitu gigihnya memimpin kita. Dan alhamdulillah umat Islam ini mendapatkan kesadaran untuk dipimpin oleh ulama,” tambahnya.

Kemudian, hikmah pasca Aksi 212 yang terakhir yaitu menumbuhkan semangat jihad fisabilillah, yang merupakan modal utama seorang muslim untuk berani melawan para penista agama, melawan antek-antek PKI, melawan Syiah, serta melawan mereka yang melakukan kejahatan terhadap kaum muslimin.
“Kita harus jaga itu semua” tutupnya.

Top