ads

Slider[Style1]


ads

Berita

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

TPM Bantah Pernyataan Menhan Soal Kesetiaan Terhadap Pancasila


Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu menyampaikan bahwa terpidana kasus terorisme Abu Bakar Ba’asyir harus mengakui ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yakni Pancasila jika ingin bebas. Pernyataan Menhan tersebut dinilai berlebihan dan tidak berdasar.
Hal itu disampaikan langsung oleh Ketua Tim Pembela Muslim (TPM) Mahendradatta SH yang mengatakan bahwa pernyataan Menhan tersebut asal bicara saja dan tidak mengerti duduk perkara yang sebenarnya.   Pernyataan Ryamizard itu dinilai gegabah dan asal bicara saja tanpa tahu apa yang terjadi.
“Jadi tidak benar itu kalau Ustadz Abu Bakar Ba’asyir itu tidak mau menandatangani pernyataan harus mengakui Pancasila dan UUD 45 jika mau dibebaskan. Tidak ada itu yang meminta ustadz, baik itu dari Yusril sebagai perwakilan Presiden ketika bertemu dengan ustadz,” tutur Mahendradatta kepada media di Gedung DPR RI Rabu, (23/1).
Lebih lanjut pengacara resmi Ustadz Ba’asyir itu juga menambahkan jika dari pihak pemerintah baik menteri atau para pembantu Presiden lainnya juga tidak ada yang meminta dan menyuruh ustadz untuk patuh dan taat dengan menandatangani pernyataan tertulis terhadap kesetiaan kepada Pancasila dan NKRI.
“Justru ustadz itu begitu sangat mencintai negara ini dan patuh serta terhadap semua peraturan yang ada dengan cara menjalani hukuman yang dijatuhkan kepada beliau walau beliau sampai dengan saat ini tidak pernah mengakui perbuatannya karena beliau memang tidak melakukannya.
Yang benar itu menurut Mahendradatta adalah justru ustadz itu didatangi oleh Pengacara Presiden Jokowi yakni Yusril Ihza Mahendra yang datang kepada ustadz Ba’asyir membawa kabar kalau Presiden Jokowi akan membebaskan Ustadz Ba’asyir tanpa syarat karena pertimbangan kemanusiaan dan kesehatan ustad sendiri saat ini.
“Nah kalau itu adalah janji dari Presiden yang akan membebaskan tanpa syarat atau istilahnya un condisional rilis. Jadi kenapa sekarang ini ada para pembantunya presiden termasuk Menhan dan Menko Polhukam tiba-tiba sekarang ada syarat yang harus dipenuhi, ini kan yang aneh,” kata Mahendradatta tak habis pikir soal itu. 

Banjir di Sulsel Merenggut 26 Nyawa


Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Selatan, Syamsibar, mengatakan dampak bencana banjir dan tanah longsor di 10 kabupaten/kota di Sulsel telah memakan korban sebanyak 26 orang meninggal dunia.
“Sebanyak 26 korban meninggal berasal dari tiga kabupaten masing-masing Kabupaten Gowa (12 orang), Jeneponto (10 orang) dan Maros sebanyak 4 orang. Jadi sampai saat ini data masuk yang kita rilis itu ada 26 orang korban,” ujarnya di Makassar Kamis (24/1/2019), seperti dilansir Antara.
Data yang dirilis BPBD Sulsel hingga 23 Januari pukul 23.10 WITA, menyatakan total korban terdampak bencana banjir sebanyak 3.914 kepala keluarga atau 5.825 jiwa, 26 orang meninggal dunia, 24 orang hilang, 46 orang sakit dan korban yang mengungsi mencapai 3.321 jiwa.
“Korban terdampak bencana yang mengungsi di atas 3.000 dan alhamdulillah curah hujan sudah tidak seperti sebelumnya. Intensitas hujan sudah mulai menurun dan Bendungan Bili-bili elevasinya juga sudah turun dan berada dalam kondisi normal,” ungkap Syamsibar.
Ia menambahkan upaya pertolongan masih terus dilakukan, termasuk di daerah yang terjadi longsor. Sampai saat ini pencarian masih terus dilakukan oleh berbagai unsur baik TNI, Polri, BPBD, Basarnas maupun Tagana.
“Untuk melakukan pencarian semua pihak dilibatkan, termasuk masyarakat, dan kami berkoordinasi dengan Bupati Gowa Adnan Purictha Ichsan Yasin Limpo dan berharap semua bisa dievakuasi. Saat ini masih dalam tahap pencarian.” 

Makassar dan 6 Kabupaten di Sulsel Dikepung Banjir


Hujan deras yang berlangsung sehari semalam disertai angin kencang menyebabkan kota Makassar dan 6 kabupaten di Sulawesi Selatan dilanda banjir besar.
Sebagian besar wilayah Makassar dan sekitarnya terendam banjir hingga setinggi kepala orang dewasa.
Sebuah jembatan dan sejumlah rumah warga terseret arus deras dari aliran Sungai Jeneberang, Selasa (22/1/2019).
“Ada sejumlah titik di wilayah Kota Makassar terendam air, dan sementara ini tim gabungan penanggulangan bencana sudah turun ke lokasi tersebut untuk memberikan bantuan sekaligus siap melakukan evakuasi terhadap warga korban terdampak,” ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar Taufiek Rahman sebagaimana dilansir Antara, Selasa (22/1/2019), lansir Detik.com.
Ia menyebutkan, beberapa titik fokus perhatian sementara dari BPBD Makassar di antaranya kawasan pemukiman Kodam III Kelurahan Katimbang, Kecamatan Biringkanaya.
Lokasi ini berbatasan dengan Kabupaten Maros yang berdekatan dengan anak sungai di wilayah itu.
Menurutnya, kondisi banjir di kawasan tersebut, terutama di Lorong Kotipa 16-14, volume genangan air sudah mencapai sekitar 1,3 – 1,5 meter atau setinggi leher orang dewasa.
Selain itu juga di Lorong Kotipa 08-13, ketinggian airnya sudah mencapai satu meter atau setinggi dada orang dewasa, sementara di Lorong Kotipa 6-7 ketinggian air mencapai 50-70 centimeter atau setinggi pinggang orang dewasa.
Demikian pula beberapa wilayah di enam kapubaten di Sulsel, yakni Kabupaten Gowa, Takalar, Jeneponto, Maros, Pangkep dan Barru.
Selain air hujan yang cukup deras, air kiriman dari pegunungan Bawakaraeng yang mengalir di sungai-sungai enam kabupaten ini meluap.
Sebuah jembatan yang berdekatan dengan Bendungan Bili-bili di Kabupaten Gowa ambruk terbawa derasnya arus Sungai Jenebarang yang airnya berasal dari pegunungan Bawakaraeng.
Sebuah rumah warga yang terbuat dari bahan kayu berada di tepi Sungai Jenebarang hanyut terbawa arus.
Belum ada laporan korban jiwa dalam musibah banjir yang menerjang kota Makassar dan enam kabupaten di Sulsel.
Namun, Jembatan Kembar yang menghubungkan Kota Makassar dengan kabupaten bagian selatan di Sulsel sempat ditutup karena arus sungai sangat deras.

Iim: Besok Insya Allah Ustadz Abubakar bisa ke Solo


Pendiri Ponpes Al-Mu’min Ngruki Ustadz Abubakar Ba’asyir (ABB) jika tiada halangan bisa meninggalkan LP Gunung Sindur di Bogor, Jawa Barat, menuju kampung halamannya di Solo, Jawa Tengah, besok, Rabu (23/01/2019).
“Besok insya Allah Ustadz Abubakar Ba’asyir bisa perjalanan menuju Solo,” ujar putra Ustadz ABB, Abdul Rohim Ba’asyir alias Iim, Selasa (22/01/2019) sekitar pukul 09.00 WIB, saat ditanya soal perkembangan proses rencana pembebasan Ustadz Abu.
Masih terkait proses tersebut, ia mengatakan, “Yang jelas memang kita sudah pada poin hari ini (Selasa) insya Allah penandatanganan administrasi.”
“Kemarin kan ketunda karena (ada acara) sertijab Kalapas di Gunung Sindur, jadi enggak bisa. Hari ini rencananya penandatanganan. Mudah-mudahan hari ini bisa selesai,” tambahnya.
Iim berharap proses pembebasan ayahnya berlangsung tanpa hambatan.
“Doakan mudah-mudahan semuanya lancar,” pungkasnya.
Sebelumnya, Iim menjelaskan kondisi ayahnya saat menjalani pidana di LP Gunung Sindur, Bogor. Ulama yang dituakan di Solo itu, terang Iim, sudah sangat sepuh, tua, dan sakit. Bahkan penyakit ABB itu hampir dari seluruh bagian tubuhnya.
“Saya tahu betul masalah ini, mulai dari kaki hingga kepala. Kaki yang bengkak karena masalah urat vena, lutut terjadi pengapuran, pinggang yang setiap hari ABB keluhkan mengalami kram dari perut sampai pinggang, kepala yang pusing pada waktu-waktu tertentu,” ujar Iim dalam konferensi pers bersama Tim Pengacara Muslim di Jakarta Selatan, Senin (21/01/2019).

TPM: Sudah Seharusnya Ustadz ABB Dibebaskan, Jangan Dipolitisasi


Ketua Dewan Pembina Tim Pengacara Muslim (TPM) Mahendradatta menegaskan bahwa rencana pembebasan Ustadz Abubakar Ba’asyir (ABB) bukan hal yang luar biasa. Ia menilai rencana tersebut biasa-biasa saja.
TPM menegaskan bahwa memang sudah seharusnya Ustadz ABB dibebaskan.
“Bahwa perkara rencana –sekali lagi rencana– pelepasan Ustadz Abubakar Ba’asyir itu adalah masalah hukum yang biasa saja, yang sudah seharusnya diperolehnya. Kalau tidak ingin dibilang ada diskriminasi hukum. Ya biasa saja,” ujarnya dalam konferensi pers di The Law Office of Mahendradatta, Jl Raya Fatmawati 22 FG, Cipete Selatan, Jakarta Selatan, Sabtu (19/01/2019).
Mahendradatta pun mengingatkan publik soal terpidana kasus penggelapan dana Bank Century, Robert Tantular.
Diketahui, pemilik Bank Century itu sudah dibebaskan melalui fasilitas pembebasan bersyarat. Bahkan Robert sudah melenggang keluar dari Lapas Cipinang sejak Juli 2018 lalu.
“Kita masih ingat tanggal 18 Desember atau 21 Desember beritanya… itu telah dibebaskan… terpidana Bank Century dalam hal ini Robert Tantular,” ujarnya didamping pengacara lainnya Achmad Michdan.
Jadi, tegas Mahendradatta, kalau digembar-gemborkan bahwa melepaskan Ustadz Abubakar sebagai kecintaan kepada ulama, “sebaliknya kami akan mengatakan pelepasan Robert Tantular sebagai kecintaan terhadap koruptor.”
Ia meminta agar rencana pembebasan Ustadz ABB tidak dipolitisasi, baik oleh pihak yang mendukung rencana pembebasan itu maupun pihak yang menolaknya.
“Jadi tidak perlu sampai begitu-begitu lah. Memang ini adalah tahun politik, tapi jangan semuanya dipolitisir,” tambahnya, sekali menegaskan bahwa rencana pelepasan Ustadz ABB tersebut biasa saja secara hukum.
Ia mengatakan, pelepasan terpidana Bank Century itu setelah mendapat remisi 77 bulan alias lebih dari 6 tahun remisinya, sebelum pelepasan bersyaratnya.
“Ustadz Abubakar Ba’asyir sayangnya tidak pernah mau perduli terhadap remisi. Jadi enggak tahu lah ‘saya dikasih remisi berapa saja terserah, enggak dikasih ya enggak apa-apa’. Beliau itu dikasih 36 bulan, tiga tahunan. Ya pastinya (berkelakukan baik) karena ustadz, enggak mungkin berantem atau hau-hau, apa narkoba dan lain sebagainya,” ungkapnya.
Hingga saat ini katanya Ustadz ABB belum mendapatkan remisi tambahan. “Baru remisi biasa itu.”

Korban Tsunami Jadi 373 Meninggal, 1.459 Luka-Luka, 128 Hilang

"Jumlah korban dan daerah yang terdampak paling parah kerusakannya adalah daerah pesisir di Kabupaten Pandenglang."


Tim SAR gabungan terus melakukan penyisiran, evakuasi, pencarian, dan penyelamatan korban bencana tsunami di sepanjang daerah terdampak landaan tsunami di Selat Sunda.
Beberapa daerah yang sebelumnya sulit dijangkau karena akses jalan rusak dan tertutup oleh material hanyutan tsunami, sebagian sudah dapat jangkau petugas beserta kendaraan dan alat berat. Hal ini menyebabkan korban terus ditemukan oleh petugas tim SAR gabungan.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, data sementara dampak bencana tsunami yang menerjang pantai di Selat Sunda hingga Senin (24/12/2018) pukul 17.00 WIB, tercatat 373 orang meninggal dunia, 1.459 orang luka-luka, 128 orang hilang, dan 5.665 orang mengungsi.
“Kerugian fisik akibat tsunami meliputi 681 unit rumah rusak, 69 unit hotel dan villa rusak, 420 unit perahu dan kapal rusak, 60 unit warung dan toko rusak, dan puluhan kendaraan rusak,” sebutnya dalam siaran persnya, Senin sekitar pukul 20.24 WIB.
Dampak bencana tsunami ini melanda daerah pesisir di pantai barat Provinsi Banten; yaitu Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Serang, dan di pantai selatan Provinsi Lampung meliputi Kabupaten Lampung Selatan, Tanggamus, dan Pesawaran.
“Jumlah korban dan daerah yang terdampak paling parah kerusakannya adalah daerah pesisir di Kabupaten Pandenglang. Di daerah ini merupakan kawasan wisata pantai dengan fasilitas hotel dan villa yang banyak berderet di sepanjang pantai.
Apalagi saat kejadian tsunami saat libur panjang sehingga banyak wisatawan menginap di hotel dan penginapan. Tidak adanya peringatan dini tsunami juga menyebabkan jatuh korban yang cukup banyak karena masyarakat tidak memiliki kesempatan untuk evakuasi,” ungkapnya.
Dari jumlah keseluruhan korban bencana yaitu 373 orang meninggal dunia, 1.459 orang luka-luka, 128 orang hilang, dan 5.665 orang mengungsi terdapat di 5 kabupaten.
Di Kabupaten Pandeglang, 13 kecamatan terdampak terjangan tsunami. Daerah pantai di Kecamatan Carita, Panimbang, Cigeulis, Sumur, Labuan, Tanjung Lesung, Cibaliung, Cimanggu, Pagelaran, Bojong, Jiput, Menes, dan Pulau Sangiang.
Tercatat 267 orang meninggal dunia, 1.143 orang luka-luka, 38 orang hilang, 473 unit rumah rusak, 350 unit perahu dan kapal rusak, 60 unit warung dan toko rusak, 84 mobil rusak, dan 49 sepeda motor rusak.
“Jumlah pengungsi yang semula 11.453 orang, saat ini berkurang menjadi 5.361 orang. Berkurangnya pengungsi karena mereka kembali ke rumahnya. Kemarin mengungsi karena adanya isu tsunami susulan,” ujarnya.
Daerah di Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang telah berhasil dijangkau petugas. Sebelumnya akses terbatas karena adanya kerusakan jalan dan jembatan. Petugas dan alat berat sudah beroperasi di Sumur. Tercatat 36 orang meninggal dunia dan 476 orang luka di Sumur. Evakuasi akan dilanjutkan besok pagi.
Di Kabupaten Serang, daerah yang terdampak adalah Kecamatan Anyer dan Cinangka. Tercatat 29 orang meninggal dunia, 62 orang luka-luka, 68 orang hilang dan 40 unit rumah rusak. Posko Tanggap Darurat didirikan di Puskesmas Cinangka Jl. Raya Karang Bolong Km 139 Kabupaten Serang.
Di Provinsi Lampung, daerah terdampak tsunami ada di Kabupaten Lampung Selatan, Pesawaran, dan Tanggamus. Di Lampung Selatan daerah terdampak meliputi Kecamatan Kalianda, Rajabasa, Sidomulyo, dan Ketibung. Tercatat 75 orang meninggal dunia, 253 orang luka-luka, 22 orang hilang di Kecamatan Rajabasa, 73 orang mengungsi dan 30 unit rumah rusak.
“Bupati Lampung Selatan telah menetapkan status tanggap darurat selama 7 hari yaitu 23 – 29 Desember 2018,” sebut Sutopo.
Sedangkan di Pesawaran terdapat 1 orang meninggal dunia, 1 orang luka-luka, 231 orang mengungsi, dan 134 unit rumah rusak. Daerah terdampak di Pulau Legundi, Desa Legundi, Kecamatan Punduh Pedada. Sedangkan di Tanggamus tercatat 1 orang meninggal dunia, 4 rumah rusak berat, dan 70 perahu rusak berat.
“Penanganan darurat terus dilanjutkan dengan fokus pada evakuasi, pencarian dan penyelamatan korban, penanganan korban luka-luka di tim medis, pelayanan pengungsi, perbaikan darurat sarana dan prasarana umum. Kondisi listrik sebagian masih padam. Sebanyak 125 unit gardu masih padam. Semula ada 150 unit gardu yang padam. Perbaikan yang dilakukan kemarin tidak optimal karena adanya isu tsunami susulan. Sebanyak 187 personel dan alat berat dikerahkan untuk memulihkan jaringan PLN yang rusak,” pungkasnya.*

Ratusan Orang Meninggal Korban Tsunami Selat Sunda


Tsunami yang terjadi pada Sabtu (22/12/2018) malam menimpa sejumlah daerah di sepanjang pesisir pantai Selat Sunda, yaitu Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang (Banten), dan Lampung Selatan.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan bahwa daerah yang paling terdampak parah adalah Pandeglang. Hingga Ahad (23/12/2018) siang total korban jiwa mencapai 168 orang dan akan terus bertambah.
Dengan rincian, 126 korban jiwa di Pandeglang, 9 orang di Serang, dan 33 di Lampung Selatan, berdasarkan informasi dari Sutopo diterima redaksi sekitar pukul 14.00 WIB. Bangunan rusak sebanyak 558 rumah, 9 hotel, dan 30-an kios.
Data-data tersebut terus ada pembaharuan. Dalam laporan Sutopo sebelumnya, data sementara pada pukul 11.00 WIB, sebanyak 62 orang meninggal dunia, luka-luka 584 orang, 20 orang hilang, 430 unit rumah rusak berat, 9 unit hotel rusak berat, 10 kapal rusak berat.
“Dan data ini akan terus bergerak naik, artinya data korban jiwa maupun kerusakan, ekonomi, akan bertambah mengingat belum semua wilayah dapat didata,”  ujar Sutopo 
Evakuasi korban tsunami di Selat Sunda terus dilakukan oleh tim gabungan. Alat berat dikerahkan untuk evakuasi.
“Daerah yang paling terdampak parah adalah Kabupaten Pandeglang yaitu kawasan wisata dan permukiman sepanjang pantai dari Tanjung Lesung, Sumur, Teluk Lada, Panimbang, dan Carita,” sebutnya.
 Sutopo membantah adanya peringatan tsunami susulan dari BMKG yang sempat beredar.
“Tidak ada peringatan dini tsunami susulan dari BMKG. Adanya sirine tsunami di Teluk Labuhan, Kecamatan Labuhan, Kabupaten Pandeglang yang tiba-tiba bunyi sendiri bukan dari aktivasi BMKG, BPBD. Kemungkinan ada kerusakan teknis sehingga bunyi sendiri. Masyarakat mengungsi mendengar sirine,” ungkap Sutopo lewat akun Twitternya @Sutopo_PN.
Menurutnya, fenomena tsunami di Selat Sunda termasuk langka. Letusan Gunung Anak Krakatau juga tidak besar. “Tremor menerus namun tidak ada frekuensi tinggi yang mencurigakan. Tidak ada gempa yang memicu tsunami saat itu. Itulah sulitnya menentukan penyebab tsunami di awal kejadian,” ungkapnya.*


 

Tandingi Reuni 212, Kajian Islam Ahad di Masjid Istiqlal Tak Diminati Banyak Orang

Foto: Kajian Islam Ahad di Masjid Istiqlal tak disambut pengunjung masjid.

Jakarta – Bersamaan dengan acara reuni 212 di Monas, Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal (BPPMI) pada Ahad, (02/12) menggelar acara Kajian Islam Ahad.
Dalam kesempatan itu, Ketua BPPMI Laksma Purn. H Asep Saepudin dan ulama NU asal Yogyakarta Gus Muwafiq didaulat sebagai pembicara.
Menurut Asep Saepudin, umat Islam sudah seharusnya menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

“Nabi Muhamad SAW mengajarkan kepada umatnya agar senantiasa menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, menghormati sesama manusia. Tidak hanya yang seiman saja, tapi juga non muslim sekalipun kita harus menjaganya,” tukas ketua BPPMI yang menggantikan posisi yang sebelumnya dijabat Alm. KH. Dr. M. Muzammil Basyuni.
Perwira tinggi Angkatan Laut itu menambahkan terkadang ada sisi manusia yang membuatnya lupa dengan kodratnya sebagai ciptaan Allah SWT. Kondisi itu lantas membawa kepada keangkuhan dan kesombongan, sehingga menganggap rendah orang lain yang tak sejalan dengannya.

Bapak Laksamana Pertama (Pur) KH. Asep Saepudin Ketua BPPMI yang belum lama dilantik oleh Menteri agama, menggantikan Alm. Bp. KH. Dr. M. Muzammil Basyuni.


“Kita harus selalu introspeksi diri, mengikuti budi pekerti yang diajarkan Rasul SAW. Berdakwah dengan santun kepada semua golongan, sehingga Islam Rahmatan Lil ‘alamin itu memang begitu nyata terasa,” jelasnya lagi.

Pada acara bertajuk Kajian Islam Ahad itu, juga disertai penampilan tim Hadrah Remaja Masjid Istiqlal, tim Salawat Majilis Ta’lim Kaum Ibu Masjid Istiqlal, serta Pembacaan Simtudduror oleh Imam dan Muadzin Masjid Istiqlal.

Di lokasi acara, hanya sekitar 40 orang yang mendengarkan kajian tersebut. Sisanya, lebih memilih beristirahat di sekitar area masjid.
Sebagian peserta reuni 212 menganggap acara Kajian Islam Ahad ini merupakan upaya acara tandingan terhadap reuni 212 di Monas. Maka dari itu, massa tak begitu antusias mengikuti ceramah yang disampaikan pembicara.

Salah satunya ialah Budi Setiawan, salah seorang pengunjung Masjid Istiqlal. Peserta reuni 212 dari Tangerang ini menduga acara ini dilakukan untuk menarik massa reuni 212 menjauh dari Monas.
“Biar orang-orang ketarik ke sini (Masjid Istiqlal, red). Jadi yang sana sepi,” katanya.

Hingga waktu salat zuhur tiba, penceramah kedua Gus Muwafiq belum juga muncul. Pembawa acara sempat mengatakan bahwa Gus Muwafiq akan berceramah pada pukul 13.00 WIB. Namun, hingga akhir acara, ulama NU dari Yogyakarta itu akhirnya batal tampil.
⇧
Top